Jakarta, 8 Juli 2025 — Dr. Andri Azis Putra, dosen Fakultas Ushuluddin dan Adab (FUA) UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon, melakukan kunjungan penelitian ke Kementerian Pertahanan RI. Kali ini, kunjungan dilakukan ke Pusat Informasi Strategis Pertahanan (Pusinfostrahan) Badan Integrasi Strategis Pertahanan (Bainstrahan), Kementerian Pertahanan Republik Indonesia.
Kunjungan tim peneliti hibah Kemendiktisaintek tersebut berlangsung pada Selasa, 8 Juli 2025 dan diterima langsung oleh Kolonel Adm Waskita selaku Kepala Bidang Ameroaf Pusinfostrahan Bainstrahan Kemhan RI, serta dihadiri pula oleh tiga Perwira Menengah (Pamen) dan sejumlah pejabat struktural di lingkungan Pusinfostrahan dan Bainstrahan.

Dalam diskusi yang berlangsung cukup intens, Dr. Andri Azis Putra menyampaikan pandangan umum terhadap kondisi komunikasi strategis antara militer dan kalangan pesantren. Menurutnya, relasi antara kedua entitas ini masih belum terbangun secara sistemik dan sinergis, khususnya dalam hal pemanfaatan fungsi teritorial yang belum terjalin erat dengan dunia pesantren.
“Ikhtiar awal seperti pelibatan santri dalam program Komponen Cadangan (Komcad) maupun Komponen Pendukung (Komduk) sebenarnya positif, tetapi masih belum dilandasi dengan pemahaman yang menyeluruh tentang visi Sishankamrata,” tegasnya. Ia juga menyampaikan bahwa seluruh dinamika ini menghadapi tantangan baru dengan munculnya lanskap komunikasi di era media baru, terutama menggunakan infrastruktur siber.

Menanggapi hal tersebut, Kolonel Waskita memberikan catatan penting terkait meningkatnya kecenderungan radikalisme yang diperkuat oleh kehadiran teknologi digital, termasuk penggunaan VPN yang mampu menembus batas-batas negara dalam konteks siberkinetik.
“Ancaman siber bersifat transnasional dan cepat berkembang. Namun, penanganan terhadap kejahatan siber selama ini masih sangat bergantung pada sistem pelaporan. Meski demikian, respons terhadap laporan yang masuk selama ini tergolong cepat,” ungkapnya.
Dalam lanjutan diskusi, Dr. Andri dan Tim Peneliti menekankan kembali bahwa semangat bela negara sesungguhnya bukan sesuatu yang harus selalu direkayasa melalui instruksi, tetapi muncul dari naluri kebangsaan dan rasa nurani. “Cinta tanah air adalah sikap yang sudah mengakar di Bangsa Indonesia. Tugas kita adalah menyusun narasi dan edukasi yang bisa menggugah semangat itu dengan pendekatan yang jernih dan manusiawi,” tambahnya.

Secara keseluruhan, diskusi yang berlangsung di lingkungan Kemhan RI ini menyoroti urgensitas akan perlunya jenis edukasi bela negara yang integratif. Pertahanan bangsa tidak hanya soal kekuatan militer, tetapi juga membangun cara pandang kolektif bahwa membela negara adalah tindakan terhormat dan bermakna.
Para peserta diskusi sepakat bahwa narasi-narasi radikalisme harus ditangkal tidak hanya dari sisi ideologi agama, melainkan juga dari pemahaman sosial, ekonomi, dan kultural yang lebih luas. Oleh karena itu, semua pihak menyatakan komitmen untuk terus mengembangkan kerangka pikir yang mampu mengekspos kebaikan-kebaikan dalam menjaga keutuhan bangsa dan keamanan negara dari potensi destruktif, baik fisik maupun berbasis siber.



