Jurusan Tasawuf dan Psikoterapi pada Fakultas Ushuluddin dan Adab UIN Siber Syekh Nurjati Cirebon menggelar Webinar Internasional FUA. Kegiatan ini menegaskan komitmen internasionalisasi fakultas. Oleh karena itu, Webinar Internasional FUA menjadi langkah strategis membangun jejaring global berbasis keilmuan.
Kegiatan berlangsung secara daring dan menghadirkan narasumber bereputasi internasional. Selain itu, forum ini membahas diaspora Indonesia dalam jejaring global. Selanjutnya, peserta mendiskusikan kontribusi transnasional berbasis identitas akademik dan spiritual.

Narasumber Global dan Fokus Diskusi
Webinar menghadirkan Prof. Frank Dhont dari National Cheng Kung University, Taiwan. Selain itu, hadir Dea Arsantiputri dari Voluntary Service Aberdeen, Skotlandia. Moderator Dr. Andri Azis Putra memandu diskusi secara interaktif.

Para narasumber menyoroti peluang kolaborasi akademik lintas negara. Dengan demikian, diskusi memperkaya perspektif keilmuan Tasawuf dan Psikoterapi. Lebih lanjut, peserta memahami relevansi pendekatan spiritual dalam konteks global.
Sambutan Dekan dan Arah Kebijakan Fakultas
Dekan FUA, Anwar Sanusi, membuka kegiatan secara resmi. Beliau menegaskan pentingnya internasionalisasi dan digitalisasi sebagai program unggulan fakultas. Sementara itu, beliau mendorong penguatan posisi keilmuan FUA di tingkat internasional.
Ia menyatakan forum ini bukan sekadar kegiatan akademik. Selanjutnya, kegiatan ini menjadi bagian transformasi kelembagaan menuju daya saing global. Oleh karena itu, mahasiswa harus siap berkontribusi tanpa kehilangan identitas kebangsaan.
Perspektif Diaspora dan Peluang Global
Dea Arsantiputri memaparkan pengalaman profesional di bidang mental health support. Selain itu, ia menyoroti peluang kerja global bagi lulusan Tasawuf dan Psikoterapi. Dengan demikian, kompetensi spiritual-humanistik menjadi keunggulan di level internasional.
Ia menekankan pentingnya menjaga identitas nasional sebagai diaspora Indonesia. Lebih lanjut, jejaring internasional membuka ruang pemberdayaan komunitas lintas budaya. Selanjutnya, mahasiswa didorong membangun kapasitas profesional berbasis nilai keislaman moderat.
Analisis Historis Diaspora dan Kolaborasi Akademik
Prof. Frank Dhont menjelaskan fenomena diaspora Indonesia dari perspektif sejarah global. Ia menilai diaspora Indonesia memiliki integritas kebangsaan yang kuat. Sementara itu, minat terhadap bahasa dan budaya Indonesia di Taiwan meningkat signifikan.
Temuan tersebut membuka peluang kerja sama riset dan pertukaran akademik. Oleh karena itu, kolaborasi internasional menjadi agenda strategis fakultas. Lebih lanjut, kerja sama dapat meliputi mobilitas mahasiswa dan riset kolaboratif.
Komitmen Jurusan dan Rencana Program Lanjutan
Ketua Jurusan, Debbi Fajrin, menyambut peluang kolaborasi global tersebut. Ia menegaskan implementasi Tri Dharma melalui program internasional konkret. Selanjutnya, jurusan merancang student mobility dan community service abroad.
Rencana pengabdian masyarakat di Taiwan menjadi agenda lanjutan. Program ini melanjutkan pengalaman pengabdian internasional di Pattani, Thailand, pada 2025. Dengan demikian, internasionalisasi diwujudkan melalui program nyata dan berkelanjutan.
Partisipasi Peserta dan Harapan Kegiatan
Webinar diikuti dosen dan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Selain itu, antusiasme peserta menunjukkan relevansi tema diaspora global. Selanjutnya, diskusi membuka wawasan tentang kontribusi keilmuan di tingkat internasional.

Akhirnya, kegiatan ini memperkuat identitas akademik jurusan dalam jaringan global. Dengan demikian, mahasiswa diharapkan percaya diri berkiprah secara internasional. Oleh karena itu, FUA terus bergerak maju memperluas kontribusi global berbasis nilai spiritual-humanistik.



